+62812 8177 9981 marketing@fnftransniaga.com

Apa Itu Floating Crane? dan Bagaimana Cara Membelinya

Floating crane membantu perusahaan menjalankan pekerjaan pengangkatan berat di laut, sungai, pelabuhan, dan kawasan pesisir. Crane ini dapat menjangkau area yang sulit atau bahkan tidak mungkin dijangkau oleh crane darat. Karena berada di atas ponton, tongkang, atau kapal khusus, floating crane dapat mendekati titik pengangkatan melalui jalur perairan.

Pelabuhan, galangan kapal, kontraktor jembatan, perusahaan pertambangan, hingga industri minyak dan gas menggunakan crane terapung untuk menangani komponen berukuran besar. Alat ini dapat mengangkat struktur baja, mesin kapal, girder, caisson, peralatan offshore, dan berbagai muatan berat lainnya. Namun, keberhasilan pengoperasiannya tidak hanya bergantung pada kapasitas crane. Kondisi perairan, stabilitas ponton, radius kerja, distribusi beban, dan kompetensi operator turut menentukan keselamatan pekerjaan.

Oleh karena itu, perusahaan perlu melakukan kajian teknis sebelum membeli floating crane. Calon pembeli harus menyesuaikan kapasitas, panjang boom, jenis ponton, sistem penggerak, kondisi lingkungan, dan kebutuhan operasional. Pembelian melalui importir berpengalaman juga penting karena floating crane membutuhkan dukungan teknis, ketersediaan suku cadang, pelatihan operator, dan layanan purna jual.

 

Apa Itu Floating Crane?

Floating crane adalah alat angkat berat yang dipasang di atas ponton, tongkang, kapal, atau platform terapung. Alat ini menjalankan pekerjaan pengangkatan dan pemindahan muatan di wilayah perairan.

Masyarakat juga mengenalnya sebagai crane terapung, crane kapal, barge crane, pontoon crane, atau marine crane. Namun, setiap istilah dapat merujuk pada konfigurasi yang berbeda. Sebagai contoh, barge crane umumnya menggunakan crane yang ditempatkan di atas tongkang, sedangkan crane vessel merupakan kapal yang sejak awal dirancang sebagai unit pengangkat.

Floating crane tersedia dalam berbagai ukuran dan kapasitas. Unit berukuran kecil dapat menangani pemeliharaan dermaga atau pemasangan tiang. Sementara itu, unit heavy lift mampu mengangkat modul offshore, bagian jembatan, dan struktur laut yang memiliki bobot sangat besar.

Berbeda dari crane darat, floating crane tidak bertumpu pada tanah atau outrigger yang berdiri di permukaan padat. Ponton atau kapal menjadi fondasi terapungnya. Kondisi tersebut membuat stabilitas platform, daya apung, gelombang, arus, angin, dan distribusi beban memengaruhi operasi pengangkatan secara langsung.

 

Bagaimana Cara Kerja Floating Crane?

Floating crane mengangkat beban menggunakan kombinasi boom, wire rope, winch, hook, sistem hidrolik, counterweight, dan sistem putar. Operator mengendalikan seluruh pergerakan dari kabin berdasarkan lifting plan serta load chart yang berlaku.

Berikut komponen dan mekanisme penting dalam operasinya.

Sistem Boom

Boom menjadi lengan utama yang membawa hook dan beban. Produsen dapat menggunakan lattice boom, telescopic boom, atau konfigurasi khusus sesuai kebutuhan proyek.

Panjang dan sudut boom menentukan jangkauan serta kapasitas pengangkatan. Semakin jauh beban dari pusat putaran crane, semakin kecil kapasitas yang dapat diangkat. Oleh sebab itu, calon pengguna tidak boleh menilai kemampuan crane hanya dari kapasitas maksimumnya.

Wire Rope dan Winch

Wire rope menghubungkan winch dengan hook atau alat bantu angkat. Winch menggulung dan mengulur wire rope untuk menaikkan maupun menurunkan beban.

Beberapa crane menggunakan lebih dari satu winch agar dapat menjalankan pekerjaan khusus. Sebagai contoh, operasi dengan grab dapat membutuhkan sistem tali yang mengangkat sekaligus membuka dan menutup grab.

Counterweight

Counterweight membantu menyeimbangkan momen yang muncul ketika crane mengangkat beban. Pabrikan menentukan ukuran dan posisi counterweight berdasarkan desain crane.

Operator tidak boleh menambah counterweight tanpa perhitungan teknis. Penambahan yang tidak sesuai justru dapat membebani struktur deck dan mengganggu keseimbangan ponton.

Sistem Hidrolik

Sistem hidrolik menggerakkan sejumlah fungsi crane, seperti boom, winch, slewing, dan attachment. Pompa hidrolik menghasilkan tekanan, kemudian katup mengatur aliran oli menuju aktuator yang membutuhkan tenaga.

Perusahaan harus menjaga kebersihan oli, kondisi filter, selang, pompa, dan seal. Kebocoran hidrolik tidak hanya menurunkan performa, tetapi juga dapat mencemari lingkungan perairan.

Sistem Putar atau Slewing

Sistem slewing memungkinkan upper structure crane berputar untuk memindahkan muatan dari satu sisi ke sisi lainnya. Pergerakan ini mengubah titik berat dan distribusi beban pada ponton.

Operator harus melakukan putaran secara terkendali. Putaran yang terlalu cepat dapat meningkatkan ayunan muatan dan menimbulkan gaya dinamis yang lebih besar.

Ponton dan Ballast Tank

Ponton menahan berat crane, counterweight, bahan bakar, perlengkapan, kru, dan muatan yang sedang diangkat. Ballast tank membantu mengatur draft, trim, dan kemiringan platform.

Sistem ballast dapat memindahkan air dari satu tangki ke tangki lainnya agar ponton tetap berada dalam batas kemiringan yang diperbolehkan. Pada operasi tertentu, petugas ballast harus berkoordinasi langsung dengan operator crane.

Sistem Mooring atau Positioning

Floating crane harus mempertahankan posisi selama operasi. Unit konvensional biasanya menggunakan jangkar, mooring line, tugboat, atau spud leg. Unit crane vessel yang lebih canggih dapat memakai dynamic positioning.

Pemilihan sistem penahan posisi harus mempertimbangkan kedalaman air, kondisi dasar perairan, arus, gelombang, lalu lintas kapal, dan kedekatan dengan struktur lain.

 

Mengapa Keseimbangan Floating Crane Sangat Penting?

Saat crane mengangkat dan mengayunkan muatan, gaya tidak hanya bekerja secara vertikal. Gelombang, angin, gerakan kapal, akselerasi winch, serta ayunan beban menimbulkan gaya dinamis tambahan.

Perubahan radius juga menggeser pusat gravitasi sistem. Apabila operator membawa muatan menjauh dari pusat crane, momen guling akan meningkat. Kondisi ponton yang miring dapat mengurangi kapasitas angkat aman.

Sebelum memulai pekerjaan, tim teknis perlu menghitung beberapa faktor berikut:

  • Berat aktual muatan dan pusat gravitasinya.
  • Berat hook block, sling, spreader beam, dan rigging.
  • Radius kerja pada setiap tahap pengangkatan.
  • Sudut boom dan kapasitas berdasarkan load chart.
  • Kekuatan deck serta struktur penyangga crane.
  • Draft, trim, heel, dan kapasitas ballast.
  • Kecepatan angin, gelombang, arus, dan pasang surut.
  • Kapasitas mooring atau sistem penahan posisi.
  • Jalur pemindahan dan lokasi penempatan muatan.
  • Faktor dinamis akibat gerakan ponton dan beban.

Perusahaan harus menggunakan load chart yang memang disiapkan untuk pengoperasian di atas platform terapung. Load chart crane darat belum tentu berlaku ketika crane dipasang di ponton.

Fungsi Floating Crane

Kemampuan bekerja langsung di perairan membuat floating crane memiliki fungsi yang luas.

Mengangkat Material Berat di Laut

Floating crane dapat membawa struktur, mesin, pipa, tangki, alat berat, dan komponen konstruksi dari kapal pengangkut menuju lokasi pemasangan. Penggunaan ponton memungkinkan crane mendekati area proyek tanpa membangun akses darat.

Memasang Struktur Baja

Kontraktor menggunakan crane terapung untuk memasang rangka baja pada proyek dermaga, jembatan, fasilitas industri, dan bangunan yang berdiri di atas perairan.

Mengangkat Mesin Kapal

Galangan kapal dapat menggunakan floating crane untuk mengangkat engine, gearbox, propeller, generator, dan komponen kapal lainnya. Crane dapat mendekati kapal dari sisi perairan sehingga teknisi tidak selalu harus membawa kapal ke dry dock.

Membangun Dermaga dan Jetty

Floating crane membantu memasang pile, pile cap, trestle, dolphin, loading platform, gangway, dan komponen jetty. Unit ini juga dapat menangani vibratory hammer atau peralatan khusus apabila desain crane mendukungnya.

Memasang Komponen Jembatan

Pada proyek jembatan yang melintasi sungai atau laut, floating crane dapat mengangkat girder, box girder, pier segment, formwork, dan struktur baja. Metode ini mengurangi kebutuhan membuat akses kerja dari daratan.

Menangani Container dan Kargo Proyek

Pelabuhan dapat menggunakan crane berkapasitas besar untuk memindahkan container, general cargo, machinery, dan project cargo. Pemilihan spreader atau lifting attachment harus mengikuti jenis muatan.

Menjalankan Operasi Salvage

Dalam salvage operation, crane terapung membantu mengangkat kapal tenggelam, reruntuhan, container yang jatuh, atau benda berat dari dasar perairan. Tim biasanya menggabungkan crane dengan penyelam, sonar, pompa, tugboat, dan peralatan pemotong bawah air.

Membantu Docking dan Perbaikan Kapal

Floating crane dapat membongkar komponen kapal sebelum perbaikan dan memasangnya kembali setelah pekerjaan selesai. Metode ini berguna ketika galangan memiliki keterbatasan crane permanen.

Merawat Fasilitas Pelabuhan

Pengelola pelabuhan dapat menggunakan crane terapung untuk mengganti fender, memperbaiki dolphin, mengangkat buoy, memelihara struktur dermaga, dan membersihkan benda yang menghambat alur pelayaran.

 

 

 

Industri yang Menggunakan Floating Crane

Pelabuhan

Pelabuhan menggunakan crane untuk kegiatan bongkar muat bulk cargo, container, alat berat, dan kargo proyek. Floating crane juga dapat membantu pelabuhan yang belum memiliki crane darat berkapasitas memadai.

Industri Offshore

Proyek minyak dan gas membutuhkan alat angkat untuk menangani pipa, modul, jacket, topside, serta komponen platform. Lingkungan offshore menuntut perlindungan korosi, prosedur keselamatan ketat, dan load chart yang mempertimbangkan kemiringan platform.

Pembangunan Jembatan

Kontraktor menggunakan floating crane untuk memasang girder, pier, box girder, segmen baja, dan peralatan konstruksi. Crane dapat mengikuti perkembangan titik kerja sepanjang jalur jembatan.

Industri Kelautan dan Galangan Kapal

Galangan kapal memanfaatkannya untuk pembangunan kapal baru, perbaikan, penggantian mesin, dan pemasangan struktur kapal. Unit bergerak memberi fleksibilitas ketika galangan menangani beberapa kapal sekaligus.

Pertambangan

Perusahaan tambang memerlukan floating crane untuk membangun serta memelihara jetty, conveyor, ship loader, barge loading facility, dan fasilitas pelabuhan tambang. Crane juga dapat menangani komponen alat berat yang datang melalui jalur laut.

Proyek Reklamasi

Floating crane membantu pemasangan caisson, breakwater, concrete block, sheet pile, dan struktur perlindungan pantai. Tim proyek harus menyesuaikan konfigurasi crane dengan kedalaman serta kondisi dasar perairan.

Pembangkit Listrik Tenaga Uap

Proyek PLTU dapat memanfaatkan floating crane dalam pembangunan jetty, coal unloading facility, intake structure, dan fasilitas bongkar muat. Crane juga dapat mengangkat komponen pembangkit yang dikirim menggunakan kapal.

Industri EPC

Kontraktor engineering, procurement, and construction menggunakan floating crane untuk memasang modul berukuran besar. Metode modular memungkinkan kontraktor merakit komponen di tempat lain, mengangkutnya melalui laut, kemudian memasangnya di lokasi proyek.

 

Perbedaan Floating Crane dan Crane Darat

AspekFloating CraneCrane Darat
Lokasi kerjaLaut, sungai, pelabuhan, dan kawasan pesisirArea darat dengan akses serta daya dukung tanah memadai
MobilitasBergerak melalui jalur perairan menggunakan kapal tunda atau sistem penggerak sendiriBergerak melalui jalan, crawler, atau carrier
KapasitasDapat mencapai kapasitas sangat besar untuk pekerjaan marine dan heavy liftKapasitas bervariasi, tetapi dibatasi akses dan kondisi lokasi
FondasiMenggunakan ponton, tongkang, atau kapalMenggunakan crawler, ban, outrigger, atau fondasi tetap
StabilitasDipengaruhi ballast, daya apung, gelombang, arus, dan anginDipengaruhi kondisi tanah, kemiringan, outrigger, dan mat
Biaya operasiMemerlukan ponton, mooring, tugboat, kru marine, dan dukungan pelabuhanUmumnya tidak membutuhkan armada pendukung kelautan
Penggunaan utamaOffshore, jembatan, dermaga, salvage, galangan, dan proyek lautKonstruksi gedung, pabrik, jalan, gudang, dan proyek darat

 

Jenis-Jenis Floating Crane

Calon pembeli perlu memahami bahwa istilah floating crane mencakup beberapa konfigurasi.

Crane yang Dipasang di Atas Ponton

Konfigurasi ini menggunakan ponton sebagai platform, kemudian produsen atau integrator memasang crane di atasnya. Tim engineering harus menghitung kekuatan deck, sea fastening, ballast, stabilitas, dan load chart untuk operasi terapung.

Crane Barge

Crane barge menggunakan tongkang yang dirancang atau dimodifikasi untuk membawa crane. Sebagian unit tidak memiliki mesin penggerak sehingga membutuhkan tugboat.

Self-Propelled Crane Vessel

Unit ini memiliki sistem propulsi sendiri. Crane vessel dapat berpindah tanpa selalu mengandalkan kapal tunda, meskipun operasinya tetap memerlukan dukungan kapal lain dalam kondisi tertentu.

Sheerleg Crane

Sheerleg menggunakan konfigurasi boom tetap atau terbatas. Jenis ini biasanya menangani pengangkatan sangat berat di pelabuhan, galangan kapal, dan proyek marine.

Offshore Crane

Produsen merancang offshore crane untuk bekerja di atas vessel atau platform. Crane ini biasanya memiliki perlindungan korosi, sistem keselamatan, serta load chart khusus untuk kondisi laut dan pergerakan kapal.

 

Hal yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Membeli Floating Crane

  1. Tentukan Beban Terberat

Catat berat, dimensi, bentuk, dan pusat gravitasi muatan. Masukkan juga berat hook, sling, shackle, spreader beam, dan attachment ke dalam total beban.

Berikan margin yang memadai. Jangan memilih crane yang kapasitasnya sama persis dengan berat muatan.

  1. Hitung Radius Kerja

Kapasitas maksimum biasanya hanya berlaku pada radius tertentu. Crane berkapasitas 90 ton belum tentu mampu mengangkat 90 ton pada jangkauan terjauh.

Mintalah load chart resmi dan periksa kapasitas pada radius aktual proyek. Langkah ini jauh lebih penting daripada hanya membaca angka kapasitas maksimum dalam brosur.

  1. Periksa Ketinggian dan Kedalaman Penurunan Hook

Selain tinggi pengangkatan, proyek marine dapat membutuhkan hook yang turun hingga ke bawah permukaan air. Pastikan panjang wire rope dan kapasitas drum winch sesuai kebutuhan.

  1. Sesuaikan Crane dengan Ponton

Periksa dimensi ponton, displacement, freeboard, kapasitas deck, ballast tank, titik pemasangan crane, dan kondisi stabilitas. Naval architect perlu mengevaluasi konfigurasi tersebut.

Crane yang bagus belum tentu aman jika pontonnya tidak sesuai.

  1. Perhatikan Kondisi Perairan

Kumpulkan data angin, gelombang, arus, pasang surut, kedalaman, dan kondisi dasar laut. Data tersebut membantu tim menentukan batas operasi, sistem mooring, dan kebutuhan kapal pendukung.

  1. Pilih Sistem Penggerak

Mesin diesel menawarkan fleksibilitas di lokasi yang belum memiliki pasokan listrik. Penggerak listrik dapat mengurangi emisi lokal, kebisingan, getaran, dan biaya operasional dalam penggunaan jangka panjang.

Pilihan terbaik bergantung pada jam kerja, tarif energi, ketersediaan listrik, dan karakter proyek.

  1. Tentukan Attachment

Floating crane dapat memakai hook block, clamshell grab, orange peel grab, spreader container, lifting beam, atau vibratory hammer. Pastikan crane, winch, dan sistem kontrol mendukung attachment yang dipilih.

  1. Periksa Perlindungan Lingkungan Laut

Lingkungan laut mempercepat korosi. Pilih unit dengan sistem pelapisan yang sesuai, komponen tahan air laut, konektor terlindungi, serta akses perawatan yang mudah.

  1. Pastikan Ketersediaan Suku Cadang

Kerusakan kecil dapat menghentikan proyek dan menimbulkan biaya besar. Tanyakan ketersediaan filter, seal, wire rope, sensor, komponen hidrolik, dan bagian sistem kontrol.

  1. Periksa Dukungan Purna Jual

Importir sebaiknya menyediakan instalasi, commissioning, pelatihan operator, inspeksi, perawatan, dokumentasi, garansi, serta dukungan teknis. Mintalah seluruh cakupan layanan tersebut secara tertulis.

 

Tahapan Membeli Floating Crane

Pembelian sebaiknya dimulai dari konsultasi teknis, bukan sekadar permintaan daftar harga. Berikut tahapan yang dapat digunakan:

  1. Jelaskan jenis proyek dan lokasi operasional.
  2. Sampaikan berat, ukuran, serta pusat gravitasi muatan.
  3. Tentukan radius dan tinggi pengangkatan.
  4. Berikan data ponton serta kondisi perairan.
  5. Tentukan attachment dan siklus kerja harian.
  6. Minta rekomendasi konfigurasi dan load chart.
  7. Periksa kebutuhan klasifikasi, sertifikasi, dan perizinan.
  8. Bandingkan harga, garansi, waktu pengiriman, serta layanan purna jual.
  9. Lakukan inspeksi dan pengujian sebelum serah terima.
  10. Jalankan commissioning serta pelatihan operator.

Dokumen penawaran sebaiknya menjelaskan ruang lingkup pengadaan secara terperinci. Pastikan harga sudah atau belum mencakup freight, asuransi, bea masuk, instalasi, sea fastening, commissioning, pengujian, pelatihan, dan suku cadang awal.

 

 

 

SENNEBOGEN 9300 untuk Penanganan Kargo Pelabuhan

SENNEBOGEN 9300 merupakan mobile harbour crane atau crane pelabuhan bergerak, bukan floating crane siap pakai dalam konfigurasi standarnya. Produsen menampilkan unit ini dengan mobile undercarriage, kemudi semua roda, dan 14 set roda untuk pengoperasian di area pelabuhan.

Karena itu, calon pembeli tidak boleh langsung menganggap SENNEBOGEN 9300 sebagai crane terapung yang dapat ditempatkan di atas ponton tanpa modifikasi. Penggunaan di atas platform terapung membutuhkan kajian engineering, persetujuan produsen atau integrator, perhitungan struktur deck, ballast, sea fastening, dan load chart khusus kondisi terapung.

SENNEBOGEN sendiri menyediakan solusi crane untuk kebutuhan offshore dan pelabuhan. Untuk sejumlah aplikasinya, produsen menawarkan perlindungan terhadap air laut, ballast tambahan, serta load chart untuk kemiringan tertentu. Pemilihan konfigurasi harus mengikuti hasil konsultasi teknis proyek.

Spesifikasi Utama SENNEBOGEN 9300

SpesifikasiKeterangan
Kapasitas angkatHingga 90 ton pada radius 19 meter
Tinggi hookHingga 43 meter
Jangkauan kerjaSesuai konfigurasi boom; versi port handling memiliki radius kerja sekitar 40–41 meter
KabinPortcab dengan sistem elevasi Skylift
Ketinggian pandang kabinHingga sekitar 21,2 meter
UndercarriageMobile undercarriage dengan all-wheel steering
Distribusi bebanMenggunakan 14 set roda
AplikasiBulk cargo, general cargo, dan container handling
AttachmentGrab dua tali, grab empat tali, atau spreader
Pilihan tenagaMesin diesel atau motor listrik

Kapasitas dan Fleksibilitas Operasional

SENNEBOGEN 9300 mampu mengangkat beban hingga 90 ton pada radius 19 meter. Unit ini dapat melayani kegiatan bongkar muat kapal hingga kelas Post-Panamax.

Operator dapat menggunakan grab dua tali atau empat tali untuk menangani bulk cargo. Untuk container handling, pengguna dapat memasang spreader yang sesuai. Motor slewing berkapasitas tinggi mendukung proses pemindahan muatan secara cepat dan terkendali.

Mobilitas di Area Pelabuhan

Sistem kemudi semua roda membantu unit melakukan manuver di area pelabuhan. Sebanyak 14 set roda mendistribusikan bobot secara merata sehingga unit menghasilkan tekanan permukaan yang lebih rendah dibandingkan desain dengan titik tumpu yang lebih sedikit.

Meskipun demikian, pengelola tetap harus memeriksa kapasitas lantai dermaga. Berat operasional crane dan gaya yang muncul selama pengangkatan dapat memberi beban besar pada struktur quay.

Kabin Portcab dengan Skylift

Sistem Skylift dapat menaikkan kabin operator ke posisi pandang yang lebih tinggi. Operator dapat bekerja pada ketinggian pandang hingga sekitar 21,2 meter dan melihat bagian dalam palka kapal dengan lebih jelas.

Posisi kabin yang rendah memudahkan manuver crane di area pelabuhan. Operator kemudian dapat menaikkan kabin ketika memulai kegiatan bongkar muat.

Desain yang Memudahkan Perawatan

SENNEBOGEN menempatkan komponen mesin, hidrolik, dan sistem tenaga dalam ruang yang dapat dimasuki teknisi. Tata letak yang rapi memudahkan pemeriksaan dan perawatan rutin.

Sistem ventilasi dan filter membantu unit bekerja di lingkungan bulk cargo yang menghasilkan banyak debu. Namun, pemilik tetap perlu menjalankan interval perawatan sesuai jam kerja dan kondisi lapangan.

Pilihan Mesin Diesel

Materi produk mencantumkan pilihan mesin diesel hingga 585 kW. Namun, halaman produk resmi terbaru juga menampilkan angka 563 kW pada bagian tertentu. Calon pembeli perlu meminta lembar data berdasarkan konfigurasi, tahun produksi, dan standar emisi unit yang ditawarkan.

Mesin diesel cocok untuk pelabuhan atau proyek yang belum memiliki pasokan listrik stabil. Pengguna tetap harus memperhitungkan konsumsi bahan bakar, emisi, kebisingan, serta biaya pemeliharaan.

Pilihan Motor Listrik

Versi listrik menawarkan daya hingga 615 kW. Motor listrik tidak menghasilkan emisi gas buang di titik operasi serta bekerja dengan tingkat kebisingan dan getaran yang lebih rendah.

Penggerak listrik juga mengurangi kebutuhan berhenti untuk mengisi bahan bakar. Dalam pengoperasian jangka panjang dengan pasokan listrik yang memadai, perusahaan berpeluang menekan biaya energi dan perawatan.

Pengguna dapat menambahkan mobile diesel power pack untuk mengoperasikan fungsi hidrolik atau memindahkan unit di area yang tidak memiliki suplai listrik. Materi yang diberikan mencantumkan power pack hingga 119 kW.

 

Cara Membeli Floating Crane Melalui Importir

Floating crane merupakan investasi besar yang memerlukan perencanaan teknis. Pembelian langsung melalui importir berpengalaman membantu perusahaan memperoleh rekomendasi produk, garansi resmi, dukungan instalasi, serta layanan purna jual yang lebih jelas.

Untuk kebutuhan pengadaan tersebut, perusahaan dapat menghubungi PT FNF Trans Niaga. Perusahaan ini menyediakan berbagai jenis crane, termasuk solusi untuk pekerjaan floating crane dan penanganan kargo pelabuhan. Berdasarkan informasi perusahaan, PT FNF Trans Niaga telah menangani pengadaan alat berat crane sejak 2015 serta melayani perusahaan swasta dan instansi pemerintah.

Sebelum memesan, sampaikan data proyek secara lengkap. Tim teknis membutuhkan informasi mengenai berat muatan, radius kerja, panjang boom, ukuran ponton, kondisi perairan, sistem mooring, sumber tenaga, attachment, dan target produktivitas. Informasi tersebut akan membantu importir merekomendasikan unit yang tepat.

Calon pembeli juga perlu meminta penjelasan apakah penawaran mencakup crane saja atau sudah meliputi ponton, desain fondasi, sea fastening, ballast system, instalasi, pengujian beban, commissioning, pelatihan, sertifikasi, dan pengiriman ke lokasi proyek.

Floating crane menyediakan solusi pengangkatan berat untuk proyek yang berlangsung di laut, sungai, pelabuhan, dan kawasan pesisir. Alat ini dapat membantu pemasangan jembatan, pembangunan jetty, perawatan kapal, salvage operation, bongkar muat kargo, hingga instalasi fasilitas offshore.

Pemilihan unit tidak boleh hanya berpatokan pada kapasitas maksimum. Perusahaan harus menghitung berat total muatan, radius kerja, kondisi perairan, kemampuan ponton, distribusi beban, sistem ballast, dan kebutuhan attachment. Tim juga harus memastikan ketersediaan load chart yang sesuai dengan konfigurasi operasional.

SENNEBOGEN 9300 menawarkan kemampuan tinggi untuk penanganan kargo pelabuhan, termasuk kapasitas hingga 90 ton pada radius 19 meter. Namun, produk tersebut merupakan mobile harbour crane dalam konfigurasi standarnya. Jika perusahaan ingin menggunakannya sebagai bagian dari sistem floating crane, tim engineering dan pemasok harus terlebih dahulu merancang serta menyetujui konfigurasi terapungnya.

 

Untuk memperoleh rekomendasi yang sesuai kebutuhan proyek, calon pembeli dapat berkonsultasi dengan PT FNF Trans Niaga. Konsultasi teknis sejak awal akan membantu perusahaan memilih crane yang aman, produktif, dan efisien untuk jangka panjang.

Hubungi Sekarang!

 



  
Need Help? Chat with us